I. WHEN I MEET YOU


“Gue sama Haidar mau beli bakmi keluar, lo jaga kafe sebentar gimana? Apa mau ikut aja terus ini kafe biar dijaga sama karyawan?” tanya gadis bersurai hitam sebahu kepada lelaki yang tengah membereskan meja yang ada di kafe tersebut.

“Gua nunggu aja deh. Tapi langit udah mendung, tuh ada payung di deket pintu keluar. Jangan lupa dibawa,” jawab lelaki tersebut lalu diiyakan oleh kedua temannya.

Raisal Arham Galdegar, lelaki itu kemudian melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu pelanggan yang akan berkunjung ke kafenya.

Di tengah nabastala yang kian tertutupi oleh awan gelap, menjadikan rasa gundah yang mulai muncul dari lubuk hatinya saat ini. Ia sedikit mengkhawatirkan kedua temannya yang sedang keluar hanya untuk membeli makanan untuknya dan diri mereka masing-masing.

Sang langit semakin redum, hujan pun turun ditengah suasana sore di kota Periangan saat ini. Suara lonceng yang tergantung diatas pintu masuk kafe pun berbunyi, Arham terkesiap dan langsung pergi menuju coffe table untuk segera melayani pembelinya.

“Kak, kopi espressonya satu ya. Di meja sebelah sana,” pesan seorang gadis sambil menunjuk kearah meja yang terletak di dekat jendela besar kafe.

“Wih, baru kali ini saya liat cewek mesen espresso. Biasanya pada mesen latte atau ga cappucino, haha,” tawa kecil Arham sambil mulai membuat pesanan gadis tersebut.

“Hidup Salma aja udah pahit begini Kak, gimana bisa dicampur sama suatu hal yang murni ga tau apa-apa. Hahaha,” balas gadis itu sambil tertawa kecil pula.

“Ada-ada aja. Ya udah, nanti saya anterin ke mejanya ya.”

Gadis tersebut duduk di tempat yang sudah disediakan sambil memandangi derasnya hujan yang sedang mengguyur kota sejuta kenangan itu. Tidak lama kemudian, Arham datang dengan secangkir kopi pesanan gadis itu lalu menaruhnya di atas meja sambil tersenyum ramah.

Arham pun kembali ke tempatnya semula. Namun, langkahnya terhenti ketika gadis tersebut tiba-tiba memanggil lalu menanyainya pertanyaan yang membuat dirinya teringat akan masa lalu.

“Kak, in your opinion, how do you forget your ex?” tanyanya yang membuat Arham terdiam sejenak lalu menghela nafas, “simple, just forget it.” jawabnya tersenyum tipis sembari melanjutkan langkahnya kembali ke coffe table miliknya lagi.

    ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . .

ㅤㅤ        #CAFFEINES TO BE CONTINUED.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

V. ABOUT EX

II. RAINY DAY