II. RAINY DAY
Hujan mulai reda, namun hembusan angin nampak ribut ditemani oleh mendungnya langit kota Bandung saat ini. Salma Prameswari, gadis pemesan kopi espresso itu terlihat sudah bersiap untuk pulang karena hujan sudah mulai mereda. Tak lupa, ia juga membayar pesanannya lalu pamit kepada Arham.
“Kak, makasih ya,” ucap Salma sambil tersenyum manis lalu dibalas oleh anggukan Arham.
“Hati-hati, jangan lupa dateng lagi.”
Tak lama, pandangan Arham terfokus kepada sebuah kartu yang tergeletak di bawah meja yang tadi Salma tempati. Dengan cepat, Arham mengambil kartu tersebut kemudian berlari ke luar kafe mencari keberadaan Salma apakah ia sudah jauh atau masih dekat.
“Sial. Cepet banget jalannya,” monolog Arham sambil membaca kartu yang tertinggal tersebut.
“Woi! Ngapain di luar?” panggil Haidar yang membuat Arham terkejut.
“Eh, ini ada yang ketinggalan kartu nama. Gua simpen aja dulu kali ya?” tanya Arham.
“Simpen aja. Atau ga, lo chat akun sosial medianya yang tertera disitu, siapa emangnya?” tanya balik Haidar.
“Di sini sih namanya Salma,” jawab Arham sambil membaca nama yang tertera di kartu tersebut.
“Ya udah, lo chat aja nanti. Ayo masuk, gue udah laper nih,” ajak Gea sambil menarik tangan kedua temannya itu ke dalam kafe kembali.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
Malam pun tiba, dan hujan juga kembali turun. Tak tahu mengapa, mungkin sang langit sedang berduka akan suatu hal. Arham, Gea, dan Haidar, kini mereka sedang bersiap untuk kembali pulang ke rumahnya masing-masing. Kafe dilanjutkan oleh para karyawan shift malam yang menjadikan ketiganya sudah selesai untuk menghandle kafenya hari ini.
Haidar mengambil alih kemudi mobil, mereka pun pergi dari kafe menuju rumahnya masing-masing untuk beristirahat malam ini. Tak heran, jika ketiganya pulang pergi hanya dengan menggunakan satu mobil, karena rumah mereka saling bersampingan satu sama lain.
“Lagi ngechat pemilik kartunya ya, Ham?” tanya Gea ketika melihat Arham yang tengah sibuk dengan ponsel dan kartu nama yang tertinggal tadi.
“Iya, nih. Mana ya akunnya ... oh, ketemu!” seru Arham.
“Girang amat bocah satu,” saut Haidar.
20 menit kemudian ...
“Gimana?” tanya Gea sembari mendekati Arham yang tengah fokus dengan roomchatnya bersama pemilik kartu tersebut.
“I asked her to meet me tomorrow, lo berdua mau ikut ga?” tawar Arham yang langsung disetujui oleh Haidar dan juga Gea.
“Wah, udah move on nih. Hahaha,” ledek Gea.
“Dih, korelasinya apa coba?” jawab Arham yang dibalas tawa kedua temannya itu.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
Keesokan harinya ...
“Mana sih orangnya? Penasaran,” tanya Haidar yang sedari tadi melirik ke sana kemari mencari gadis yang akan ditemui mereka saat ini di lapangan basket milik kampus.
“Telat kali. Kalau lama, besok lagi aja. Udah mau hujan gini soalnya,” jawab Gea sambil melihat ke arah nabastala yang kian meredum.
Setitik demi setitik air hujan pun mulai turun, Haidar dan Gea sudah memaksa Arham untuk memberikannya di lain waktu saja namun, Arham tetap tidak mau pergi sebelum kartu nama itu diserahkan kembali kepada pemiliknya.
“Kak!” panggil gadis bersurai hitam sambil melambaikan tangannya kemudian berlari menghampiri Arham dan hujan pun mulai semakin deras.
“Maaf banget Kak telat, tadi ada masalah sedikit,” ucap gadis yang bernama Salma itu dengan raut wajah merasa bersalah.
“Ini kartunya, ga basah kok. Pamit ya! Makin deras, nih!” seru Arham yang langsung memberikan kartu nama milik Salma lalu berlari diikuti oleh kedua temannya kembali ke kelas.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
“Lo bawa sweater ga, Ham? Baju lo basah semua itu, nanti malah demam,” tanya Gea yang khawatir karena temannya tersebut memiliki riwayat sensitif kepada air hujan.
“Ketinggalan di mobil. Ga apa-apa deh, sebentar lagi juga pulang,” jawab Arham.
“Nih, pake kaos gua dulu. Gua rangkep dua soalnya. Gua mah ga masalah kalau basah, kalau lo kan sensitif. Jadi, ayo cepet ke toilet ga usah ada penolakan, awas aja,” saut Haidar yang langsung menarik lengan Arham kemudian mengajaknya untuk mengganti baju di toilet kampus.
Kini, Gea sedang menunggu sendirian di lobby kampus. Pandangannya langsung terfokus ketika seorang gadis datang menghampirinya lalu menanyainya.
“Lo liat Arham ga?” tanyanya dan Gea pun langsung mengernyitkan alisnya seolah-olah ada rasa tidak suka dengan gadis yang berada di hadapannya saat ini.
“Ada urusan apa lagi lo sama dia? Mau buat dia gagal move on ya?” tanya Gea menatap serius gadis tersebut.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
ㅤㅤ #CAFFEINES TO BE CONTINUED.
Komentar
Posting Komentar