V. ABOUT EX
Sang senja kembali menyapa Arham dan kedua temannya saat kelas sudah usai. Ketiganya tampak hendak kembali ke parkiran untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing.
“Eh, bang Agnan nelepon. Lo yang nyetir dulu bisa ga?” tanya Arham ketika ia hendak masuk ke dalam mobil kepada Haidar.
“Ya udah iya. Gua yang nyetir,” jawabnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
“Bang Agnan katanya besok mau ke rumah, mau curhat soal hubungannya sama pacarnya yang di Aussie itu. Dar, lo nanti pagi ke rumah gua ya, temenin,” ucap Arham ketika telepon sudah terputus.
“Kenapa lagi tuh?” tanya Haidar sembari fokus dengan setir mobilnya.
“Mau minta saran buat seterusnya katanya, tapi ga tau juga,” jawab Arham.
“Eh eh, ada konser nih di lapangan Pusenif besok malem. Mau pada ikut ga? Gue mau ngajak Daniel tapi,” ajak Gea sambil memperlihatkan poster sebuah konser musik dari ponselnya.
“Terus lo mau kita berdua jadi kambing conge gitu?” tanya Haidar.
“Ya kan lo bisa ajak temen cewek lo juga, Dar. Arham juga bisa ajak Salma tuh kalau mau? Hahaha,” ledek Gea.
“Tapi boleh juga sih, not bad. Mumet juga gua kalau di rumah atau di kafe mulu, ayo deh kalau gitu,” jawab Arham yang membuat keduanya terkejut.
“Lo mau ngajak Salma? Berani emang?” tanya Haidar tidak percaya.
“Iya lah. Nonton doang ini, lo pikir gua mau jadi kambing congenya Gea sama Daniel?” jawab Arham.
“Yah, gua ajak siapa dong? Ajak bang Agnan aja apa ya? Biar ngeambyar bareng haha,” tanya Haidar lagi.
“Ajak aja. Kasian juga dia kayaknya lagi stres butuh hiburan,” saut Gea yang akhirnya disetujui oleh Haidar.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
Keesokan harinya, ketukan pintu terdengar seraya Arham hendak keluar dari rumahnya untuk segera pergi ke tempat yang sudah ia rencanakan bersama saudaranya, Raden Agnan Dipkamtara.
Terlihat sorot mata yang tidak baik-baik saja dari benak Arham ketika melihat Agnan yang ternyata sudah berada di depan pintu rumahnya saat ini. Bumantara nampak cerah hari ini, namun tidak dengan dengan raga yang tengah terdiam dihadapan Arham sekarang.
“Hey? Are you okay?” tanya Arham dan obrolan perihal rasa pun dimulai.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
“Berangkat sekarang, nih?” tanya Agnan ketika sudah usai bertukar pikiran lalu melihat Haidar dan Arham yang sudah bersiap untuk berangkat menuju konser malam nanti.
“Iya, berhubung Arham sama Gea udah ada pasangan nonton. Kita berdua aja Bang, mau pake motor Haidar apa motor bang Agnan aja nih?” tanya balik Haidar.
“Motor gua aja deh. Loh, Arham udah ganti? Kok ga bilang-bilang?” tanya Agnan yang membuat Arham terdiam sejenak.
“Eh engga, Bang. Lo apaan sih? Cuma ngajak nonton bareng doang juga, ga lebih,” jawab Arham sambil menoyor kepala Haidar.
“Yah salah tingkah dia. Udah sana jemput dulu Salmanya, kita ketemuan di tempat bayar tiketnya aja sama si Gea. Rumah biar gua aja yang ngunci,” ucap Haidar yang langsung disetujui oleh Arham.
Suara motor mulai terdengar lalu menghilang. Sudah sejak semalam Salma menyetujui ajakan dari Arham yang menjadikan lelaki itu nampak sudah siap untuk kegiatan malam ini.
“Kak!” panggil Salma sembari menghampiri ketika Arham sudah sampai di tempat yang sudah dijanjikan sebelumnya.
“Widih, udah siap aja. Ya udah nih, pake helmnya terus langsung naik. Jangan lupa pegangan,” jawab Arham tidak lupa dengan senyuman yang tercipta diwajahnya saat ini.
Hilir angin menerpa helaian surai yang keluar dari helm gadis dibelakang Arham saat ini. Pantulan bayangan wajah terlihat di kaca spion motornya yang menciptakan satu tarikan di bibirnya sekarang. Berharap Tuhan tidak menurunkan hujan untuk hari ini, doa itupun akan selalu terpanjat di dalam hatinya.
Hanya perlu 20 menit saja untuk mereka sampai di tempat tujuan. Motor dan helm sudah tertata rapih di parkiran yang sudah disediakan. Dan sejauh mata memandang, Arham bisa melihat teman-temannya beserta saudaranya sudah menunggu di tempat pembayaran tiket.
“Wih, pada nonton juga?” tanya Arham semangat ketika melihat teman-teman sekampusnya ikut pula dalam konser musik hari ini.
“Yoi, mumpung libur kenapa ga gas aja? Hahaha, itu ... doi baru?” tanya balik lelaki bersurai cokelat kepada Arham.
“BUKAN,” jawab Salma dan Arham serentak.
"Ciee barengan. Hahahaha,” ledek semuanya sambil tertawa lepas.
“Woi, bro! Sorry lama ke toiletnya,” panggil lelaki bersurai biru yang baru saja datang bergabung dengan semuanya.
Raut wajah Salma seketika berubah, berubah 180°. Arham yang melihatnya pun langsung menanyai Salma saat itu juga.
“Lo ... kenal sama Daniel?” tanya Arham yang tidak dijawab sama sekali oleh Salma. Sampai Gea mengisyaratkan semuanya untuk masuk ke area, Arham pun menghiraukan pertanyaan tersebut dan langsung mengajak Salma untuk ikut masuk juga ke dalam area konser.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
Langit kian meredum, sang surya kembali istirahat dan kemudian digantikan oleh sang putri malam yang menerangi malam penuh bintang saat ini.
Konser sebentar lagi akan dimulai, Salma mencoba untuk tidak menghiraukan kehadiran seseorang yang dulu sudah menghancurkan hidupnya walaupun hanya sesaat. Canda tawa tercipta dan konser pun akhirnya dimulai.
Satu jam berlalu, malam sudah semakin larut, dan konser pun semakin meriah. Semuanya bersenang-senang. Terutama, Gea dan Haidar yang juga ikut senang ketika melihat Arham bercanda tawa bersama Salma yang ada disebelahnya sambil mendengarkan alunan musik yang dinyanyikan oleh artis-artis terkenal Indonesia.
Salma tidak melihat Daniel disekitarnya, yang menjadikan ia menikmati konser kali ini sampai satu panggilan masuk, dan canda tawa itu harus lepas untuk sementara.
“Kak, Salma ke belakang dulu ya. Sekalian ke toilet dulu sebentar,” pamit Salma yang di iyakan oleh Arham.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
22.30 pm, Lapangan Pusenif.
“Lo pada ada liat Salma ga? Dari tadi belum balik lagi, katanya ke toilet. Teleponnya juga ga aktif,” tanya Arham ketika semua orang mulai beranjak meninggalkan lokasi karena konser telah usai.
“Lah bukannya sama lo?” tanya Gea.
“Iya tadi sama gua. Niel, lo liat Salma ga? Cewek yang bareng gua tadi?” tanya Arham kepada Daniel yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
“Mana gua tau,” jawabnya.
“Ya udah, lo semua kalau mau pulang, pulang aja. Gua cari dulu itu anak, baru gua pulang,” ucap Arham yang langsung berlari ke arah toilet untuk mencari keberadaan Salma.
“Woi, Ham! Ikut napa!” teriak Haidar namun tidak digubris sama sekali oleh Arham.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
Setelah beberapa menit ia berkeliling, akhirnya Arham pun menemukan keberadaan Salma. Gadis itu kini yang tengah duduk terdiam dengan satu tali sepatu yang tidak terikat di taman kecil dekat area bekas konser tadi.
“Dicariin, taunya di sini,” ucap Arham menghampirinya sembari membenarkan tali sepatu milik Salma.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
ㅤㅤ #CAFFEINES TO BE CONTINUED.
Komentar
Posting Komentar