III. SALMA
“Apaan sih? Nanya doang juga,” tanya balik gadis tersebut.
“Arham lagi ganti baju. Udah kan?” jawab Gea sambil mengontrol emosinya.
“Eh, ada apaan nih?” tanya Haidar yang sudah bertukar baju dengan Arham menghampiri kedua gadis tersebut.
“Ayo pulang. Lagi pula, kita udah ga ada kelas lagi hari ini,” jawab Gea sambil menarik kedua tangan sahabat lelakinya itu kemudian pergi meninggalkan lobby kampus.
“Dia ngapain lagi?” tanya Arham sedikit kebingungan.
“Ga penting, ga jelas juga. Udah ayo pulang, lo belum minum obat tuh,” jawab Gea lagi dan akhirnya, mereka bertiga pun pulang kembali ke rumah masing-masing dengan satu mobil yang selalu mereka bawa bersama.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
Hujan kembali reda, menyisakan kenangan yang membekas dilubuk hati seorang insan. Ketiga sahabat itu kini sudah sampai di depan rumah Arham. Keduanya seperti sudah tau kalau tidak ada siapapun di rumah Arham karena, kedua orang tua Arham sedang pergi ke luar negeri untuk beberapa bulan.
“Gua nemenin lo deh, Ham. Takutnya lo demam butuh apa-apa kan, gua ada di ruang tamu,” ucap Haidar sambil menepuk bahu Arham ketika sudah masuk ke dalam garasi rumahnya.
“Ya udah, lo berdua kalau mau tidur bisa di kamar tamu atau ga di kamar ayah bunda gua. Dar, lo ganti baju dulu gih, basah itu,” jawab Arham.
“Gue ke kafe dulu ya? Mau ngambil paper bag yang ketinggalan kemarin. Langsung pulang kok,” ucap Gea yang lalu di iyakan oleh kedua temannya tersebut.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
—Coffeething's Cafè
Jl. Braga, Bandung city.
Suara lonceng berbunyi ketika Gea sudah sampai di kafenya tersebut, ia segera mengambil barangnya yang kemarin sempat tertinggal di sana. Ketika sudah memgambil, ia pun hendak kembali pulang namun, langkahnya terhenti oleh panggilan seseorang.
“Kak!” panggil seorang gadis dan Gea pun seketika menengok sambil terkejut.
“Eh, Salma ya? Hai! Dari kapan nongkrong di sini?” tanya Gea yang akhirnya menghampiri gadis bernama Salma tersebut terlebih dahulu.
“Udah dari tadi sih, Kak. Em ... kak Arham ga dateng ke sini juga ya?” tanyanya sedikit gugup.
“Ohh, cie nyariin. Arhamnya lagi sakit, tadi siang kan hujan-hujanan. Palingan, lusa baru jaga kafe lagi, ada apa emangnya?” tanya balik Gea.
“Yaampun, pasti gara-gara Salma telat ya? Maafin Salma ya Kak,” jawab Salma dengan raut muka merasa bersalah.
“Eh, ga apa-apa kok. Dia emang sensitif sama air hujan,” ucap Gea.
“Ohh gitu, em ... Salma boleh nitip bingkisan ini ga, Kak? Ini isinya kue jahe buatannya bunda Salma, hehe. Kebetulan, masih banyak di rumah. Oh ya, buat Kakak sama Kakak cowok satu lagi ada kok! Ini sebagai ucapan terima kasih dari Salma buat kalian semua,” ucap Salma sambil memberikan tiga bingkisan kue kepada Gea.
“Astaga, makasih banyak. Ga ngerepotin, nih?” tanya Gea sambil senyum sumringah.
“Engga kok Kak. Oh iya, nama Kakak sama kakak satu lagi siapa? Belum kenalan, hehe,” tanya balik Salma.
“Eh iya lupa belum kenalan. Nama gue Gea, kalau cowok yang kulitnya sawo matang itu namanya Haidar, kita semua anak jurusan jurnalistik nih, semester akhir. Sendirinya?” tanya Gea lagi.
“Panggil aja Salma. Anak jurusan sastra nih Kak, udah jalan semester ke tujuh. Salam kenal ya Kak,” jawab Salma sambil berjabat tangan dengan Gea.
“Panggil aja Gege, hm ... ini harus laporan sama Arham, nih. Duduk dulu ayo, pegel kalau berdiri terus hehe,” ajak Gea dan obrolan ringan pun dimulai.
ㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤㅤ . . .
ㅤㅤ #CAFFEINES TO BE CONTINUED.
Komentar
Posting Komentar