IV. LIBRARY


“Gue pulang.”

Suara tersebut terdengar ketika pintu rumah Arham terbuka. Terlihat, gadis bersurai sebahu itu membawa tiga bingkisan yang sebelumnya Salma beri kepadanya.

“Bagus ya lo, demam bukannya tidur malah main game. Nih ada makanan, game terus!” seru Gea ketika melihat Arham dan Haidar tengah bermain game di ruang keluarga.

“Wih, makanan!” seru Haidar yang langsung meninggalkan stick gamenya lalu menghampiri Gea.

“Ah lo mah, kalah kan jadinya,” gerutu Arham yang akhirnya meninggalkan permainannya kemudian menghampiri Gea pula.

“Ini bukan dari Salma, kan?” tanya Arham karena ia teringat pesan yang Gea kirimkan sebelumnya.

“Dari bundanya Salma. Makan nih, kue jahe soalnya,” jawab Gea sambil memberikan satu kotak kue jahe tersebut kepada Arham dan juga Haidar.

“Pasti habis ngegosip kan sama itu cewek?” tanya Haidar.

“Dikit sih, ternyata dia anak fakultas sastra inggris woi! Asik juga anaknya, gue ada tanya tuh kenapa dia tadi siang bisa sampai telat, katanya nyelesain masalah dulu sama exnya. Tapi, pas gue tanya exnya siapa dia ga jawab soalnya keburu pamit,” jawab Gea.

“Oh, gitu. Waktu pertama ketemu juga dia nanyain gimana cara ngelupain mantannya ke gua, baru putus kali makanya nanya begitu,” ucap Arham yang teringat pertanyaan Salma ketika pertama kali bertemu.

“Sarkas banget ya itu cewek. Padahal belum kenal sama lo, udah nanya hal sensitif aja. Hahaha,” ledek Haidar tertawa garing.

“Ya orang habis putus mana ada yang ga sarkas. Gua aja waktu putus sama Yesha udah kayak orang gila, eh apaan sih kok jadi ngomongin mantan?” tanya Arham tersadar akan topik yang sedang ia bincangkan saat ini.

“Udah, mending makan tuh kuenya. Ngomongin Yesha terus, males gue.” jawab Gea.

   ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . .

Sang surya kembali tersenyum di pagi hari, nabastala tidak sepenuhnya cerah hari ini, karena awan mendung selalu ada menemaninya.

“Loh, mau masuk kelas hari ini? Udah sehat emangnya?” tanya Haidar ketika melihat Arham yang tengah bersiap memasukkan laptopnya ke dalam tas.

“Udah mendingan, santai. Ga enak juga gua ngasih surat terus kalau lagi musim penghujan gini,” jawab Arham.

“Oh, ya udah. Kalau pusing atau gimana bilang aja ke gua sama Gea. Plester penurun panasnya jangan lupa dibawa, buat jaga-jaga,” suruh Haidar yang dibalas oleh anggukan Arham.

                      —Universitas Padjajaran
                  Jl. Bandung Raya, Sumedang.

Hembusan angin sedikit ribut saat ini, Arham segera mengeluarkan sweaternya lalu memakainya ketika sudah sampai di kampusnya saat ini.

Ketiga remaja itu bergegas masuk ke dalam kelasnya karena jam sudah menunjukkan waktu kelas dimulai. Sesekali, Haidar dan Gea memperhatikan Arham karena mereka khawatir dengan kesehatan temannya tersebut sekarang.

“Gua ke perpustakaan dulu ya. Lo berdua kalau mau ke kantin, ke kantin aja. Nanti gua nyusul,” pamit Arham kepada Gea dan Haidar ketika dosen sudah keluar dari kelas mereka.

“Oke.”

Arham pun pergi menuju perpustakaan sembari membawa laptopnya untuk sekedar melepas penat hanya untuk seorang diri saja. Suhu dalam tubuhnya mulai meninggi sekarang, Arham juga sudah bisa merasakan kalau demamnya datang kembali. Ia pun langsung duduk di kursi baca perpustakaan sambil mengeluarkan plaster penurun panas kemudian menempelkannya di keningnya.

Setelah menempelkan plester tersebut, pandangannya langsung tertuju kepada gadis yang sedang membaca buku di depan mejanya saat ini.

“Astaga!” seru keduanya dan gadis itupun langsung menutup wajahnya dengan buku yang sedang dipegangnya saat ini.

Arham terkejut dan suasana pun hening seketika. Tak lama, Arham tertawa kecil ketika melihat buku yang menutup wajah gadis di depannya itu ternyata terbalik.

“Itu bukunya kebalik,” ucapnya yang membuat gadis tersebut tersadar lalu kemudian membalikkan bukunya.

“Eh? Hehe, maaf. Kaget habisnya,” jawab gadis itu hanya ber 'hehe' ria saja.

“Ga ke kantin?” tanya Arham.

“Salma lagi ga laper. Itu ... dikening Kak Arham apa?” tanya balik gadis tersebut siapa lagi kalau bukan Salma.

“Oh, ini? Plester penurun demam, keliatan aneh ya? Hehe,” jawab Arham sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.

“Yaampun, engga kok. Kenapa ga istirahat aja di rumah? Ada-ada aja,” tanya Salma lagi.

“Ga apa-apa. Anyway, kue jahe yang kemarin enak, bundanya jago juga ya buat kue. Hahaha,” jawab Arham sembari tertawa kecil.

“Syukur deh, bunda emang jago banget buat kue. Ga heran kalau rasanya enak juga,” jawabnya lagi lalu obrolan pun terhenti.

Keduanya kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Sampai sepuluh menit berlalu, Salma hendak kembali ke kelasnya namun, pandangannya terfokus kepada Arham yang sedang tertidur di atas laptopnya sendiri.

'I hope you're a good person for me. Get well soon, Kak.' batin Salma sambil tersenyum seraya pergi meninggalkan perpustakaan karena kelasnya akan dimulai sebentar lagi.

      ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . .

ㅤㅤ         #CAFFEINES TO BE CONTINUED.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

V. ABOUT EX

I. WHEN I MEET YOU

II. RAINY DAY