VI. DANGER

“Eh astaga, belum pulang Kak? Tadi Salma udah kirim pesan minta suruh duluan aja, soalnya Salma mau jalan-jalan dulu sebentar. Maaf juga tadi ga balik lagi ke area konsernya, hehe,” jawab Salma dengan senyuman yang bisa diartikan oleh Arham.

“Tadi waktu sehabis ke toilet, ketemu siapa emang?” tanya Arham.

“Hah? Engga kok. Salma pure ke toilet terus kebablasan diem di sini aja,” jawab Salma lagi sambil ber 'hehe' ria saja.

“Ya udah kalau gitu, ayo pulang. Udah malem, ga baik. Waktunya istirahat,” ajak Arham sambil menarik tangan Salma yang kemudian disetujui pula oleh dirinya.

    ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . .

Mentari kembali terbit dari ufuk timur. Jam istirahat sekarang sedang berlangsung. Haidar, lelaki itu kini tengah menghabiskan makan siangnya di kantin kampus bersama Arham sembari mengobrol beberapa bahasan yang penting untuk dibahas.

“Jo ngajakin gua lagi buat masuk ke gengnya. Kira-kira, gua terima ga ya?” tanya Haidar.

“Musuh lo itu? Ngajakin lo supaya masuk lagi ke gengnya? Apa ga mencurigakan tuh?” tanya balik Arham sambil melahap makan siangnya.

“Ga tau juga, sih. Sore ini gua diajak ketemuan,” jawab Haidar yang mulai sedikit ragu.

“Ga usah ikut, ga usah aneh-aneh. Mereka licik, lo harus lupain masa lalu, mana tau mereka cuma ngajak lo buat mukulin lo habis-habisan karena dendam mereka ke lo yang belum selesai itu? Ga ada yang tau,” larang Arham karena ia tidak mau terjadi apa-apa kepada temannya tersebut.

“Tapi siapa tau mereka berubah? Ga ada yang tau juga kan?” tanya Haidar.

“Ngeyel banget lo, ya udah terserah. Tapi kalau ada apa-apa, langsung telepon gua aja oke? Oh ya, Gea kemana?” tanya balik Arham yang baru menyadari ketidakhadiran Gea disekitarnya.

“Lagi pacaran kali sama si Daniel,” jawab Haidar menerka.

“Makanan gua udah abis, gua mau nyamperin Gea dulu ya,” pamit Arham yang dibalas oleh anggukan Haidar.

    ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . .

—Taman kampus, UNPAD.

Semilir angin menerpa surai lelaki berbaju putih yang tengah mencari keberadaan Gea saat ini. Langkahnya terhenti ketika melihat Salma yang tengah terduduk di kursi taman sembari mengusap air matanya sampai lelaki itu menghampiri, semua langsung tampak baik-baik saja sepertinya.

“Kok nangis? Kenapa?” tanya Arham.

“Hah? Kelilipan doang ini, hehe. Ke kelas dulu ya Kak,” jawab Salma yang langsung pergi meninggalkan Arham.

“Aneh.” gumamnya.

    ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . .

Kelas sudah usai sejam yang lalu, Gea pamit untuk pergi duluan bersama Daniel kepada Arham. Haidar juga sudah pergi sejam yang lalu menuju markas Jo karena ia sudah menyetujui ajakan tadi siang yang menjadikan, Arham kini mau tidak mau harus pulang seorang diri dengan motor KLXnya.

“Woi! Arham!” panggil seorang lelaki jangkung menghampiri Arham di parkiran.

“Eh, Sada. Ada apa nih?” tanya Arham sambil bertos ria dahulu bersama teman fakultas sebelahnya.

“Basket ayo? Udah lama. Eh, tumben Haidar ga sama lo?” ajak lelaki yang bernama panjang Ahyar Sadajiwa Gauraka kepada Arham sambil menanyai keberadaan Haidar.

“Ayo. Oh, Haidar? Dia lagi bareng gengnya Jo sekarang, entah kenapa gua udah feeling bad aja gitu,” jawab Arham.

“Sumpah? Terus lo ga larang gitu? Jo mana pernah berubah,” tanya Sada lagi.

“Ya gitu, ga bisa. Dia kekeh,” jawab Arham.

Drrtt drrtt.

Tiba-tiba, ponsel Arham berdering, ada panggilan masuk yang ternyata itu dari teman kecilnya, siapa lagi kalau bukan Haidar. Suara ribut terdengar ketika Arham sudah mengangkat telepon tersebut.

Telp mode on.

[ Bener kata lo! Posisi gua sekarang ada di markas Jo. To— ]

[ Hah? Lo kenapa, Dar? Halo? ]

Call ended ...

    ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ             . . .

ㅤㅤㅤㅤㅤ #CAFFEINES TO BE CONTINUED.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

V. ABOUT EX

I. WHEN I MEET YOU

II. RAINY DAY