Postingan

VI. DANGER

Gambar
“Eh astaga, belum pulang Kak? Tadi Salma udah kirim pesan minta suruh duluan aja, soalnya Salma mau jalan-jalan dulu sebentar. Maaf juga tadi ga balik lagi ke area konsernya, hehe,” jawab Salma dengan senyuman yang bisa diartikan oleh Arham. “Tadi waktu sehabis ke toilet , ketemu siapa emang?” tanya Arham. “Hah? Engga kok. Salma pure ke toilet terus kebablasan diem di sini aja,” jawab Salma lagi sambil ber 'hehe' ria saja. “Ya udah kalau gitu, ayo pulang. Udah malem, ga baik. Waktunya istirahat,” ajak Arham sambil menarik tangan Salma yang kemudian disetujui pula oleh dirinya.     ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . . Mentari kembali terbit dari ufuk timur. Jam istirahat sekarang sedang berlangsung. Haidar, lelaki itu kini tengah menghabiskan makan siangnya di kantin kampus bersama Arham sembari mengobrol beberapa bahasan yang penting untuk dibahas. “Jo ngajakin gua lagi buat masuk ke gengnya. Kira-kira, gua terima ga ya?” tanya Haidar. “Mu...

V. ABOUT EX

Gambar
Sang senja kembali menyapa Arham dan kedua temannya saat kelas sudah usai. Ketiganya tampak hendak kembali ke parkiran untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing. “Eh, bang Agnan nelepon. Lo yang nyetir dulu bisa ga?” tanya Arham ketika ia hendak masuk ke dalam mobil kepada Haidar. “Ya udah iya. Gua yang nyetir,” jawabnya.    ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . . “Bang Agnan katanya besok mau ke rumah, mau curhat soal hubungannya sama pacarnya yang di Aussie itu. Dar, lo nanti pagi ke rumah gua ya, temenin,” ucap Arham ketika telepon sudah terputus. “Kenapa lagi tuh?” tanya Haidar sembari fokus dengan setir mobilnya. “Mau minta saran buat seterusnya katanya, tapi ga tau juga,” jawab Arham. “Eh eh, ada konser nih di lapangan Pusenif besok malem. Mau pada ikut ga? Gue mau ngajak Daniel tapi,” ajak Gea sambil memperlihatkan poster sebuah konser musik dari ponselnya. “Terus lo mau kita berdua jadi kambing conge gitu?” tanya Haidar. “Ya kan lo ...

IV. LIBRARY

Gambar
“Gue pulang.” Suara tersebut terdengar ketika pintu rumah Arham terbuka. Terlihat, gadis bersurai sebahu itu membawa tiga bingkisan yang sebelumnya Salma beri kepadanya. “Bagus ya lo, demam bukannya tidur malah main game. Nih ada makanan, game terus!” seru Gea ketika melihat Arham dan Haidar tengah bermain game di ruang keluarga. “Wih, makanan!” seru Haidar yang langsung meninggalkan stick gamenya lalu menghampiri Gea. “Ah lo mah, kalah kan jadinya,” gerutu Arham yang akhirnya meninggalkan permainannya kemudian menghampiri Gea pula. “Ini bukan dari Salma, kan?” tanya Arham karena ia teringat pesan yang Gea kirimkan sebelumnya. “Dari bundanya Salma. Makan nih, kue jahe soalnya,” jawab Gea sambil memberikan satu kotak kue jahe tersebut kepada Arham dan juga Haidar. “Pasti habis ngegosip kan sama itu cewek?” tanya Haidar. “Dikit sih, ternyata dia anak fakultas sastra inggris woi! Asik juga anaknya, gue ada tanya tuh kenapa dia tadi siang bisa sampai telat, katanya nyelesain ma...

III. SALMA

Gambar
“Apaan sih? Nanya doang juga,” tanya balik gadis tersebut.  “Arham lagi ganti baju. Udah kan?” jawab Gea sambil mengontrol emosinya. “Eh, ada apaan nih?” tanya Haidar yang sudah bertukar baju dengan Arham menghampiri kedua gadis tersebut. “Ayo pulang. Lagi pula, kita udah ga ada kelas lagi hari ini,” jawab Gea sambil menarik kedua tangan sahabat lelakinya itu kemudian pergi meninggalkan lobby kampus. “Dia ngapain lagi?” tanya Arham sedikit kebingungan. “Ga penting, ga jelas juga. Udah ayo pulang, lo belum minum obat tuh,” jawab Gea lagi dan akhirnya, mereka bertiga pun pulang kembali ke rumah masing-masing dengan satu mobil yang selalu mereka bawa bersama.     ㅤㅤㅤㅤㅤ   ㅤㅤ          . . . Hujan kembali reda, menyisakan kenangan yang membekas dilubuk hati seorang insan. Ketiga sahabat itu kini sudah sampai di depan rumah Arham. Keduanya seperti sudah tau kalau tidak ada siapapun di rumah Arham karena, kedua orang tua Arham sedan...

II. RAINY DAY

Gambar
Hujan mulai reda, namun hembusan angin nampak ribut ditemani oleh mendungnya langit kota Bandung saat ini. Salma Prameswari, gadis pemesan kopi espresso itu terlihat sudah bersiap untuk pulang karena hujan sudah mulai mereda. Tak lupa, ia juga membayar pesanannya lalu pamit kepada Arham. “Kak, makasih ya,” ucap Salma sambil tersenyum manis lalu dibalas oleh anggukan Arham.  “Hati-hati, jangan lupa dateng lagi.” Tak lama, pandangan Arham terfokus kepada sebuah kartu yang tergeletak di bawah meja yang tadi Salma tempati. Dengan cepat, Arham mengambil kartu tersebut kemudian berlari ke luar kafe mencari keberadaan Salma apakah ia sudah jauh atau masih dekat. “Sial. Cepet banget jalannya,” monolog Arham sambil membaca kartu yang tertinggal tersebut. “Woi! Ngapain di luar?” panggil Haidar yang membuat Arham terkejut. “Eh, ini ada yang ketinggalan kartu nama. Gua simpen aja dulu kali ya?” tanya Arham. “Simpen aja. Atau ga, lo chat akun sosial medianya yang tertera disitu, siapa emangny...

I. WHEN I MEET YOU

Gambar
“Gue sama Haidar mau beli bakmi keluar, lo jaga kafe sebentar gimana? Apa mau ikut aja terus ini kafe biar dijaga sama karyawan?” tanya gadis bersurai hitam sebahu kepada lelaki yang tengah membereskan meja yang ada di kafe tersebut. “Gua nunggu aja deh. Tapi langit udah mendung, tuh ada payung di deket pintu keluar. Jangan lupa dibawa,” jawab lelaki tersebut lalu diiyakan oleh kedua temannya. Raisal Arham Galdegar, lelaki itu kemudian melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu pelanggan yang akan berkunjung ke kafenya. Di tengah nabastala yang kian tertutupi oleh awan gelap, menjadikan rasa gundah yang mulai muncul dari lubuk hatinya saat ini. Ia sedikit mengkhawatirkan kedua temannya yang sedang keluar hanya untuk membeli makanan untuknya dan diri mereka masing-masing. Sang langit semakin redum, hujan pun turun ditengah suasana sore di kota Periangan saat ini. Suara lonceng yang tergantung diatas pintu masuk kafe pun berbunyi, Arham terkesiap dan langsung pergi menuju coffe...